MLM Tiens 2015

Sabtu, Mei 12th 2018. | artikel

MLM Tiens 2015

MLM: Dapatkah Diandalkan sebagai Bisnis Jangka Panjang?

Pada tahun 2003, majalah Warta Bisnis edisi 1-15 Oktober memuat daftar 100 pemasar terkaya di Indonesia. Peringkat 1-7 dihuni para distributor MLM. Peringkat 8 dari asuransi. Selebihnya mayoritas dari MLM, dan ada sebagian kecil dari bisnis properti.

Sepuluh besar saya cantumkan di sini:

Louis Tendean (MLM Tianshi), penghasilan di atas 5 miliar setahun

Hartono (MLM Tianshi), penghasilan 3 – 5 miliar setahun

Susanto (MLM Tianshi), penghasilan 3 – 5 miliar setahun

Rudy M Noor (MLM Tianshi), penghasilan 3 – 5 miliar setahun

Trisulo (MLM Tianshi), penghasilan 3 – 5 miliar setahun

Alex IW (MLM CNI), penghasilan 3 – 5 miliar setahun

Robert Angkasa (MLM Amway), penghasilan 3 – 5 miliar setahun

Liem Lie Sia (Asuransi Prudential), penghasilan 3 – 5 miliar setahun

Frans Budiarjo (MLM Amway), penghasilan 1,5 – 2,5 miliar setahun

Chris Matindas (MLM Amway), penghasilan 1,5 – 2,5 miliar setahun

Dari fakta ini, tampak bahwa bisnis MLM itu sangatlah luar biasa. Dalam waktu relatif singkat (1-3 tahun) dan dengan modal yang terbilang kecil, banyak distributor telah meraih penghasilan ratusan juta per bulan. Inilah salah satu daya tarik MLM, mlm tiens 2015 bahkan daya tarik yang utama. Jika seorang distributor sudah berhasil membentuk jaringan yang kuat, selanjutnya dia tinggal ongkang-ongkang kaki (mungkin hanya butuh sedikit receh untuk tutup poin dalam bentuk belanja pribadi) dan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah mengalir sendiri ke rekening.

Tapi sesuai dengan judul di atas, saya ingin tahu apakah MLM dapat diandalkan sebagai bisnis jangka panjang. Penghasilan besar oke, tapi apakah penghasilan besar itu akan terus mengalir dalam jangka panjang?

Bagaimana Kabar Para Pemasar Terkaya Itu Sekarang?

Untuk mengetahui hal itu, saya mencoba menelusuri perkembangan para pemasar terkaya dalam daftar di atas selepas tahun 2003 hingga sekarang tahun 2015. Poin-poin yang menjadi pertanyaan saya:

Apakah para pemasar terkaya itu sekarang masih di bisnis MLM?

Apakah masih di perusahaan yang sama?

Berapakah penghasilan mereka saat ini? Apakah meningkat, tetap, atau turun?

Apakah penghasilan mereka kini diperoleh secara pasif?

Sebenarnya saya berharap menemukan kembali daftar serupa pada tahun-tahun berikutnya, baik yang dibuat oleh majalah Warta Bisnis ataupun majalah lainnya. Saya mengetikkan kata kunci semacam “para pemasar terkaya indonesia tahun 2015”, “distributor MLM terkaya di Indonesia tahun 2015”, tapi Google selalu menunjuk ke daftar tahun 2003. Entah kenapa belum ada pembaruan data. Jika betul penghasilan dari bisnis MLM itu exponential growth (naik berlipat-lipat tiap tahun), tak terbayangkan berapa penghasilan mereka saat ini mlm tiens 2015.

Louis Tendean. Sepertinya masih di Tianshi, fotonya ada dipajang di inovasibisnis.com (2013). Tapi berapa penghasilannya saat ini tidak dipublikasikan.

Hartono. Dikabarkan hengkang dari Tianshi dan mendirikan MLM lain. Infonya di sini: https://bravo9682.wordpress.com/2008/05/24/top-leader-tianshi-yang-hengkang/

Susanto. Pernah keluar dari Tianshi tapi balik lagi (info tahun 2008 di https://bravo9682.wordpress.com/2008/05/24/top-leader-tianshi-yang-hengkang/). Info terbaru tidak diperoleh.

Trisulo. Keluar dari Tianshi mlm tiens 2015, pindah ke Furchange tapi tidak lama, lalu pindah ke Talk Fusion, dan pada tahun 2013 pindah ke Jeunesse Global. Konon penghasilannya di Jeunesse sudah mencapai 3M per bulan, hanya dalam 2 tahun. Patut ditunggu berapa penghasilannya 5-10 tahun kemudian. \

Alex IW. Sepertinya masih di CNI, tapi tidak didapatkan info berapa penghasilannya saat ini.

Robert Angkasa. Tidak diketahui kabar terbarunya apakah masih di MLM atau tidak, setidaknya melalui penelusuran di internet.

Liem Lie Sia. Di antara 10 nama teratas, mlm tiens 2015hanya Liem Lie Sia yang saya ketahui dengan persis kabar beritanya. Keluar dari perusahaan asuransi Prudential dengan meninggalkan penghasilan hampir 400 juta sebulan, tahun 2004 Liem Lie Sia pindah ke Allianz dan sampai sekarang (2015) masih di Allianz. Penghasilannya saat ini mencapai 15 miliar setahun atau setara 1,25 miliar sebulan (bisa dilihat di sini: http://myallisya.com/2015/04/16/daftar-agen-asuransi-allianz-terkaya-tahun-2015/). Asuransi bukan MLM, tapi sistem kompensasinya sama-sama memakai skema pemasaran berjenjang. Tentang perbedaan bisnis MLM dan asuransi, saya pernah menulis di sini: Antara Bisnis MLM dan Asuransi.

Frans Budiarjo. Tidak diketahui kabar terbarunya, setidaknya dari penelusuran di internet.

Chris Matindas. Tidak diketahui kabar terbarunya, setidaknya dari penelurusan di internet.

Jadi, apakah MLM bisa diandalkan sebagai bisnis jangka panjang?

Syarat dan Ketentuan Berlaku

Secara teori, MLM dapat diandalkan sebagai bisnis yang menghasilkan passive income dalam jangka panjang, dengan syarat dan ketentuan:

Perusahaan masih berdiri dan terus berinovasi.

Jaringan distributor masih solid hingga ke level paling bawah dan semuanya tetap berproduksi (merekrut member dan menjual produk).

Jika perusahaan sudah bubar, tentu bubar jugalah passive incomenya.

Jika perusahaan masih berdiri tapi tidak lagi berinovasi, maka habislah oleh para kompetitor yang terus bermunculan dengan tawaran-tawaran lebih menarik.

Jika jaringan distributor tidak solid dan banyak yang keluar (berhenti atau pindah ke MLM lain), maka habislah passive incomenya. Jika banyak yang keluar, maka sebanyak itu pula member yang harus menggantikan. Ini akan menjadi usaha tanpa henti, jadi kapan passive incomenya?

Jika jaringan distributor masih ada tapi sebagian besar sudah malas berproduksi, berhenti pulalah passive incomenya.

Apakah ada perusahaan maupun leader MLM yang memenuhi dua syarat dan ketentuan di atas? Waktu sekitar 2 dekade sejak tahun 90-an hingga sekarang cukup membuktikan bahwa dua syarat itu sangatlah berat.

 

Saya percaya, dengan kerja keras dan ketekunan, bisnis MLM bisa mendatangkan penghasilan besar dalam waktu singkat, tapi saya ragu untuk jangka panjang.

Tiga perusahaan MLM yang leadernya menempati 10 besar di atas, yaitu Tianshi, CNI, dan Amway, ketiganya masih ada sampai sekarang. Tapi sepertinya susunan top leader dan distributornya sudah berbeda jauh dengan 12 tahun lalu.

MLM Tiens 2015

Rapuhnya Sistem Bisnis MLM

Bicara penghasilan pasif dalam jangka panjang atau sering dikatakan cukup ongkang-ongkang kaki uang mengalir sendiri ke rekening, sepertinya itu hal yang nyaris mustahil karena sistem bisnis MLM bertopang pada dasar yang rapuh. Apakah dasar yang rapuh itu?

 

Secara garis besar, sistem bisnis MLM ada dua macam, yaitu sistem matahari dan sistem binari. Para sistem matahari (jumlah downline langsung tidak dibatasi), penghasilan yang diperoleh para leader top ditopang dari penjualan ribuan membernya yang mayoritas merupakan member level bawah.

 

Para member level bawah ini penghasilannya masih sedikit sehingga belum bisa mengandalkan MLM sebagai sumber penghasilan utama. Mereka ini sangat mudah berguguran. Kebanyakan mereka tidak bertahan lama di MLM.

 

Jika dasarnya rapuh, bagaimana cara leader level menengah dan leader level puncak mempertahankan penghasilannya? Tidak lain, para leader ini harus mencari member pengganti dengan jumlah yang sama dan menghasilkan penjualan yang setara. Jika jaringan mereka sudah punya 10 ribu member, lalu separuhnya keluar, maka butuh pengganti sejumlah yang sama dan belanjanya pun sama supaya penghasilannya tidak turun. Bayangkan jika jaringannya sudah mencapai jutaan orang, dan sebagian besar member level bawah keluar, berapa orang yang harus mereka rekrut supaya penghasilan tidak berkurang? Itu baru bicara mempertahankan penghasilan. Bagaimana jika mereka ingin meningkatkan penghasilan? Tentu harus lebih keras lagi upaya yang dilakukan.

Lalu kapan penghasilan pasif yang didambakan itu datang?

Pada MLM dengan sistem binari (dua kaki), situasinya lebih rentan lagi. Sistem binari tidak mensyaratkan penjualan produk, jadi penghasilan para leader top dihasilkan dari aktivitas perekrutan yang dilakukan para membernya, di mana perekrutan ini seringkali disertai penjualan produk. Pada saat yang sama, aktivitas perekrutan (plus penjualan produk) ini harus diiringi perpasangan supaya bonusnya keluar. Semakin ke bawah, syarat perpasangan akan semakin berat karena melibatkan jumlah member yang semakin banyak. Jika satu kaki timpang, perpasangan dengan bonus yang besar tidak akan terjadi selama-lamanya. MLM dengan sistem binari biasanya mudah berkembang pesat, tapi juga sangat mudah rontok. Dan jika satu kaki besar rontok (misalnya karena berhenti atau pindah ke MLM lain), maka berakhirlah semuanya. Sang leader harus mulai lagi dari awal, atau pindah ke MLM baru.

Lalu kapan penghasilan pasif yang didambakan itu datang?

Produk Dijual Dengan Skema Konvensional

Selain soal sistemnya yang rapuh karena penghasilan leader bersandar para ribuan member yang penghasilannya belum seberapa, ada satu masalah lagi dari segi harga produk, khususnya untuk MLM yang jaringan membernya tidak berkembang lagi.

Di sejumlah toko dan apotek di pasar BSD Serpong, saya mendapati beberapa produk MLM dijual dengan harga jauh di bawah harga resmi ke konsumen.

 

Kopi ginseng C* dijual dengan harga 60 ribu per pak isi 20 saset. Harga resmi 85 ribu.

Chlorophyll K* dijual dengan harga 90 ribuan per botol. Harga resmi 140 ribu.

Propolis M* dijual dengan harga 50 ribu per botol kecil. Harga resmi 110 ribu.

Shake H* dijual dengan harga 207 ribu per botol. Harga resmi 366 ribu.

Dan beberapa lagi.

Dan jika anda menelusuri harga barang-barang tersebut di toko online seperti Tokopedia, ternyata harganya lebih mencengangkan lagi.

 

Bagaimana perasaan saya jika saya adalah distributor produk MLM di atas? Apakah saya akan melaporkan kepada manajemen perusahaan supaya para penjual itu ditindak? Apakah saya punya keyakinan bahwa manajemen perusahaan akan menertibkan hal itu?

 

Pertanyaannya, mengapa produk-produk tersebut dijual di bawah harga resmi? Beberapa kemungkinan:

Bisnis MLM dapat digunakan untuk mendapatkan kekayaan yang besar dalam waktu singkat (1-2 tahun). Ini belum merupakan penghasilan pasif karena butuh usaha luar biasa sangat keras untuk mencapainya.

Untuk jangka panjang, MLM tidak dapat diandalkan sebagai bisnis jangka panjang karena bertopang pada dasar atau fondasi bisnis yang rapuh.

Fondasi bisnis MLM adalah ribuan member yang penghasilannya masih kecil dari bisnis ini. Mereka sangat mudah berguguran.

Untuk bisa bertahan lama di MLM, dibutuhkan usaha yang terus-menerus untuk membangun jaringan baru menggantikan jaringan lama yang rontok. Jadi kapan penghasilan pasifnya?

Di dunia MLM sering ada ungkapan: “MLM X akan booming tahun ini, ambil posisi segera mumpung baru berkembang”. Lalu tahun depan bagaimana? Sepuluh tahun kemudian bagaimana?

 

Jika sesuatu ada masanya booming, berarti ada masanya surut. Oleh karena itu, jika anda berniat menjalankan bisnis MLM dengan sungguh-sungguh, niatkanlah untuk jangka pendek, mungkin 1 atau 2 tahun saja. Setelah kekayaan besar anda peroleh, segera alihkan ke aset-aset yang memiliki nilai stabil-menaik seperti emas dan properti.

Multi Level Marketing atau yang biasanya disingkat MLM, merupakan sebuah bisnis yang mampu mengembangkan potensi diri seseorang. Tidak jarang muncul beberapa trainer atau motivator ternama yang mengawali karirnya dengan berbisnis MLM. Kenapa demikian? Sebab sisi kreativitas dan inovasi dalam diri seseorang akan terpacu ketika menjalankan bisnis MLM. Inilah yang merupakan pembeda dan nilai positif dalam berbisnis MLM jika dibandingkan dengan sistem bisnis lain. Namun, meski banyak kita temukan para pebisnis MLM yang sukses dan berhasil dalam menjalankan bisnisnya, tidak jarang pula para pebisnis MLM yang menemukan kegagalan dalam berbisnis. Untuk itu, akan kita bahas apa saja yang menyebabkan seseorang gagal dalam berbisnis MLM.

MLM Tiens 2015

No Mindset. Ada sebagian orang yang menjadikan bisnis MLM sebagai hobi. Maka anggapan ini keliru. Kenapa? Sebab anggapan ini menyebabkan seseorang tidak optimal dalam menjalankan bisnisnya, dan hanya menjalankannya secara  santai tanpa memiliki target yang harus dicapai. Oleh sebab itu, ubah mindset anda untuk menjadikan bisnis MLM sebagai bisnis murni sehingga tingkat keseriusan dan keuletan anda dalam menjalankan bisnis ini akan meningkat.

No Value. Pada umumnya, seseorang yang menjalankan bisnis MLM akan menemukan kegagalan jika ia hanya menawarkan produk atau layanan yang menarik dari kulit luarnya saja (misalnya packaging, characteristic, atau harga yang kompetitif). Padahal konsumen tidak membutuhkan hal tersebut, yang konsumen butuhkan adalah value dari produk ataupun layanan ini, apa itu baik ataukah buruk. Jika value dari produk atau layanannya baik, mereka cenderung akan membelinya walaupun harganya mahal.

No Selling. Faktor value yang telah dijelaskan diatas harus didorong oleh kemampuan untuk menjual (selling). Value yang terbaik sekalipun tidak akan berfungsi jika tidak ada kemampuan atau kemauan untuk menjual. Maka solusinya adalah cari tahu apa yang orang butuhkan. Jika anda sudah memahami apa yang dibutuhkan oleh orang banyak serta didorong dengan produk atau layanan yang terbaik dari anda, maka hasilnya akan lebih optimal.

No Record. Database atau catatan konsumen perlu dimiliki sebagai acuan dalam mengevaluasi diri, apakah selama ini yang anda lakukan sudah benar atau belum tepat.

No Differentiate Account. Coba bedakan account (rekening) pribadi dengan account bisnis. Tujuannya adalah agar anda mengetahui apakah bisnis MLM ini sesuai denga bakat anda, serta anda akan semakin bersemangat jika rekening anda semakin hari semakin bertambah banyak. Hal ini dilakukan agar anda senantiasa termotivasi.

No Goal. Banyak orang yang terlena akibat tidak memiliki goal/sasaran. Maka susunlah sasaran anda secara jelas dan realistis, jangan terlalu berlebihan agar energi tidak terbuang sia-sia.

No Action Plan. Tanpa adanya action plan sama ibaratnya dengan orang buta yang jalannya meraba-raba yang tidak tahu jelas ke mana, mengapa, dan bagaimana tujuannya bisa dicapai.

No Evaluation. Anda tidak akan dapat menilai apakah strategi yang selama ini anda tempuh sudah benar atau salah jika tanpa ada evaluasi. Evaluasi juga berguna untuk menilai cara apa yang efektif dan efisien. Maka evaluasi sangat penting dalam hal ini, guna menghindari melakukan kesalahan yang sama di waktu yang berbeda.

No Vision. Visi sangatlah penting, kenapa? Karena visi membuat anda fokus dan konsentrasi dalam pencapaian sasaran. Sebaliknya, jika anda tidak memiliki visi, maka apapun yang anda capai akan sulit didapat akibat tidak adanya pedoman yang anda miliki.

 

tags: , , , ,